Di tengah derasnya arus digital, kebenaran hari ini tidak
hanya bergantung pada apa yang kita kerjakan, tetapi pada apa yang dapat
dilihat dan dibuktikan oleh dunia. TPP (Tenaga Pendamping Profesional) Aceh
Utara telah mengabdi, bekerja siang dan malam, menembus lorong-lorong Desa,
mendampingi masyarakat dari nol hingga bangkit mandiri. Banyak hal telah kita
perbuat. Banyak perubahan telah kita lahirkan. Namun, hanya sedikit yang tahu.
Sedikit yang melihat. Lalu sebagian orang dengan mudah berkata: “TPP diam.
TPP tidak berguna.”
Padahal, kesunyian informasi selama ini bukan karena kita
tidak bekerja, melainkan karena kita tidak memiliki jendela tempat dunia bisa
melihat kerja kita. Kita tidak punya panggung. Kita tidak punya medium. Kita
tidak punya corong yang menampilkan denyut pembangunan yang kita gerakkan dari
bawah. Di sinilah blog hadir—bukan sebagai pelengkap administratif, tetapi
sebagai jendela kedaulatan digital, tempat kita berbicara langsung
kepada negara dan dunia internasional: bahwa desa Aceh Utara bergerak, bahwa
pendampingan tidak pernah berhenti, dan bahwa TPP adalah motor yang
menghidupkan perubahan.
Selama ini kita telah mencetak program, menggerakkan BUMDes,
memperkuat musyawarah, menurunkan angka kemiskinan desa, menghidupkan ekonomi
lokal, dan membuka akses masyarakat terhadap inovasi. Tetapi karena tidak
terdengar, seolah-olah itu tidak pernah ada. Karena tidak terlihat, seakan-akan
tidak terjadi. Blog adalah jawaban dari seluruh kesenyapan itu. Blog bukan
sekadar catatan digital; ia adalah senjata peradaban. Dengan blog, TPP
Aceh Utara menolak dilupakan. Dengan blog, kita menolak dicitrakan negatif oleh
ketidaktahuan publik.
Blog ini akan menjadi saksi, bahwa dari desa terpencil hingga
pusat kecamatan, TPP hadir dan bekerja. Bahwa pendampingan bukan sekadar
program, tetapi perjuangan. Bahwa yang kita lakukan bukan untuk dipuji, tetapi
untuk dicatat dalam sejarah digital republik ini. Karena dalam era modern,
pekerjaan yang tidak terdokumentasi dianggap tidak pernah dilakukan; perjuangan
yang tidak dipublikasikan dianggap tidak pernah ada.
Maka blog bukan lagi kebutuhan teknis. Ia adalah pangkal
kedaulatan. Ia adalah bukti eksistensi. Ia adalah mimbar tempat TPP Aceh Utara
berdiri tegak, menyatakan dengan suara lantang: kami tidak diam, kami
bekerja; kami bukan pelengkap, kami pelopor; dan hari ini, dunia akan tahu apa
yang selama ini kami perjuangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar